Kambing juga bisa berpuisi

Postingan yang ke-6 ini berisi tentang puisi karangan gue. Puisi ini gue buat selama sejam, buat lomba cipta baca puisi pada ajang PORSENI III di sekolah gue. Semua isi otak gue keluarin buat menciptakan sebuah karya yang luar biasa ini, namun puisi ini tidak sepenuhnya karya gue. Puisi ini telah diedit oleh seorang guru ter-favorit di sekolah gue Bapak Suparman S, Pd. M, Pd. Beliau adalah seorang Master biologi yang mampu merangkai sederet kata-kata menjadi sebuah puisi yang sangat enak di dengar.

Puisi gue ini meraih Juara II, dan yang keluar sebagai pemenang adalah  teman gue Achmad Syahied. Walaupun ada sedikit kekecewaan tapi gue udah merasa cukup bangga bisa jadi juara dua pada ajang PORSENI ini.    

Doa Para Pengemis
Kami tidur beralaskan tanah
Beratapkan langit, dan bintang
Menjadi lampu tidur kami

Kami makan segenggam nasi
Sudah membusuk
Hasil dari tong-tong sampah
Manusia kufur

Kami tidak tahu berhitung
Tidak tahu membaca
Dan tidak tahu apa-apa

Kami yang hanya bisa menengadahkan tangan
Mengharapkan belas kasihan
Para dermawan

Ya Allah, dengarkanlah rintihan kami ini
Rintihan kami sepanjang malam
Kami yang senantiasa mengingat-Mu
Tak henti-hentinya melafaskan nama-Mu
Sepanjang harinya bersujud pada-Mu
Dan terus mengharapkan rezeki-Mu

Tapi mengapa? Mengapa?
Memberikan rezeki-Mu kepada mereka
Tidak tahu bersyukur
Tidak tahu bersujud
Tidak pernah menyebut Nama-Mu
Tidak pernah mengingat-Mu
Dan mereka yang tidak tahu siapa Engkau

Ya Allah,
Ampunilah dosa-dosa kami
Dosa kedua orang tua kami
Dan izinkanlah kami penghuni surga-Mu
Suatu hari kelak

Desember 2011
Kambing Jantan 

Lagu Galau

Ini adalah beberapa lagu yang sempat gue ciptakan disaat lagi jatuh cinta:
Lagu pertama saat gue lagi jatuh cinta sama salah seorang teman gue di SMP yang berakhir sedih. Gue memperjuangkan cinta gue dari kelas 1 SMP sampai 3 SMP namun ternyata cinta gue dikhianati, bayangkan aja gimana sakit hatinya gue...:(

Cinta Terpendam
Ku ingin engkau, tahu bahwa
Hatiku untukmu...
Ku tak ingin kehilangan
Dirimu...
                Karena kau sangat berarti
                Sempurnakan jiwa ini
                Cinta ini terpendam
                Dan kukatakan

Reff:      Ku cinta kamu apa adanya
                Ku sayang kamu
                Ku cinta kamu sepenuh hati
                Takkan pernah terganti

Nah itulah saat-saat dimana gue lagi galau, namun ternyata perasaan galau nggak pergi begitu saja, perasaan itu kembali gue rasakan di masa SMA saat menunggu jawaban dari seorang adik kelas  yang telah membuat gue kelepek-kelepek. Perjuangan gue akhirnya berhenti pada hari ke-420 ditandai dengan keluarnya PROKLAMASI dari gue pada tanggal 6 Desember 2011. Gue sempat menciptakan 2 buah lagu saat dekat dengannya.

Kelingking (Lagu 1)
Jari kecil memainkan musik
Melantunkan nada,
nada yang indah

Jari kecil menuliskan syair
Mencurahkan segala
Isi dihati

Lagu ini untuk jari kecil
Jari kecil untuk lagu ini...

Reff:      Tunjukanlah jari kelingkingmu
             Kuberjanji my little finger
             Bernyanyilah jari kelingking
             I’m singing cause I Love You


Menjadi Kekasihmu (Lagu 2)
Aku merasa
Jatuh terlalu dalam
Terperangkap cintamu...
                Aku merasa
                Tenang bila bersamamu
                Terhipnotis cintamu...
Andai kubisa memilikimu
Takkan pernah kulepaskan...
                Reff:      Jadikanlah aku kekasih untukmu
                                Biarlah kucoba temani hatimu
                                Dan percayakan,
Hatimu padaku, biar kucoba
Temani hatimu...

Ehm, itulah lagu-lagu yang sempat gue ciptakan saat lagi jatuh cinta. Jadi buat para produser yang mau ngajak gue rekaman silahkan hubungi alamat di bawah ini...


Dan bagi para Kambing Lovers dapatkan kaset dan CD-nya dipenjual kandang kambing terdekat...:D

Tombol Power

Kemarin (31/12/2011), gue, Reky, dan Anjas udah ngadain tour keliling sekolah. Waktu itu mulai dari anak kecil yang masih nyusu ma nyokapnya sampe kakek-kakek  yang nyusu sama si nenek (kidding) pada nyalain petasan, padahal udah kita ketahui bersama bahwa petasan itu dapat menyebabkan Kanker alias (Kantong Kering), Serangan Jantung, Kebakaran, Susah Tidur, Dimarahi Nyokap, dan Susah PUP. Selain bermain petasan banyak juga yang nggak kehabisan napas buat niup terompet tahun barunya, dan ada juga manusia kere di akhir tahun yang cuman bisa moyongin bibirnya kayak terompet terus ngeluarin suara buat niruin suara petasan, tapi malah kedengaran seperti motor mogok [ngelirik Syaiful Islam] ‘hehehehe’.

Ngomong-ngomong soal petasan dan terompet di tahun baru, gue punya sedikit pengalaman seru waktu nyalain PS 3 (Playstation 3). Jadi waktu itu, mata kami terpikat pada sebuah bangunan baru  menyerupai gazebo yang keliatan elegan dengan lukisan bata pada tiang-tiang yang menopangnya dan lampu yang berwarna kuning makin membuat bangunan itu keliatan menarik.

‘Ade, yuk kita singgah disitu’ ajak Reky sambil nunjuk bangunan itu

‘Ayo, tapi kita mau bikin apa Rek? Entar kita malah bikin malu-maluin lagi’ jawab gue

‘Bilang aja kita mau pesan air putih atau apalah, yang pasti kita mesen sesuatu ‘ balas Reky dengan senyuman yang agak melebar di wajahnya yang bulat

‘Serius nih? Ayo!’  kata gue dengan semangat menyetujui ajakan Reky

Gue, Reky, dan Anjas pun mendekat ke bangunan itu, tapi sayang dewa fortuna nggak lagi berpihak ke kami. Ternyata bangunan itu belom dibuka alias diresmikan, gue cuman liat beberapa anak kecil yang lagi ngepel sambil joged-joged di tempat itu. Kekecewaaapun menyelimuti muka kami kecuali Anjas yang sedari tadi keliatan santai karena nggak setuju ma niat gue dan Reky. Gue nggak berhenti sampai disitu, seperti kata orang tua dulu ‘Tak ada rotan akarpun jadi’, rencana A nggak jadi rencana dadakanpun muncul.

‘Rek, main ps aja yuk!’ ajak gue yang udah kehabisan ide sambil ngelirik ruko yang ada di belakang bangunan itu

‘Ayo, emang berapa per jam-nya?’ tanya Reky yang belom pernah sama sekali main ps di tepat itu

‘Lima ribu per jam, gimana? Mau ndak??’ tanya gue minta persetujuan Reky

‘Ayo, sambil nunggu malam tahun barunya’  jawab Reky

Kami-pun menuju ruko yang di depannya terpampang sebuah spanduk bertuliskan ADELIA, ruko itu menyediakan beberapa fasilitas seperti; tempat fitnes, rental PS 3, jual humburger, dan makanan ringan lainnya. Gue cuman bisa bilang dompet loe bakal menipis kalo lama-lama tinggal disitu.

‘Assalamu alaikum...assalamu alaikum’ teriak gue dengan suara yang kecil. Berulang-ulang gue teriak tapi nggak seorangpun  yang  ngerespon salam gue.  Gue liat seorang cewek lagi duduk di dalam, gue-pun  kembali teriak ‘Assalamu alaikum... bisa main?’ berharap cewek itu bakal dengar suara gue. Tapi nihil, cewek itu malah pergi ninggalin gue. “Cantik..cantik koq budek” pikir gue dalam hati.


Selang beberapa detik kemudian terdengar suara cewek itu dari dalam ‘Nyalain aja’.

Mendengar perintah itu  langsung aja gue ma Reky mengotak-atik ps itu. Dengan ilmu kesokta-soktaan gue mencoba nyalain ps itu, tapi apa yang terjadi?  tangan gue malah pegel mencet-mencet tombol powernya. Sesekali kami menertawakan kekonyolan itu, berbagai cara udah kami coba buat nyalain tuh PS mulai dari cari remotenya sampe ngangkat-ngangkat sempat ps-nya lagi ngompol, ato ngiler, ato ada yang rusak pikir gue waktu itu.

Gue malah heran ma Reky, cowok paling gede di angkatan gue. Kalo bisa diumpakan, gue sebagai kambing jantan dari timur, nah Reky adalah gajah jantan dari timur-nya “hehehehe”. Reky yang hoby nongkrong dengan barang-barang elektronik itu hanya bisa tertawa sambil mencari tahu dimana tombol power itu bersembunyi.

Untung aja Ulla’ adik kelas gue datang ke tempat itu, mungkin dialah Malaikat ps yang diturunkan buat nolongin gue.

‘Eh, bantu saya ps-nya nyalain dong’  tanpa ada rasa gengsi gue minta tolong ma Ulla.

“Argh... What?” Ternyata tombol powernya ada dibelakang ps itu. Melihat Ulla menekan sebuah tombol dibelakang ps, gue yang emosinya minta ampun ma Reky cuman bisa tertawa ngakak-ngakak karena tombol power itu. Ulla-pun memandu kami untuk memulai permainan layaknya seorang guru TK yang ngajar muridnya yang udah tinggal kelas 12 kali.

Namun mungkin Tuhan berkata lain, tak cukup 5 menit senyum menghiasi wajah kami, sebuah kutukan menimpa kami. Permainan itu nggak mau main, akhirnya kami mencoba permainan yang lain dan akhirnya main juga.

Gue lega setelah hampir setengah jam tinggal di tempat itu cuman bisa ketawa bareng ma Reky mencari sebuah tombol power yang ternyata ada di balik ps, akhirnya bisa bermain.

Notes:
·         Jangan pernah pergi ke tempat rental PS 3 kalo loe nggak tahu dimana tombol powernya  atau loe bakal ketawa ngakak-ngakak selama 30 menit sambil nyari letak tombol powernya.
·         Ajaklah teman yang mungkin tahu bagaimana cara nyalain PS 3, jangan ngajak teman kamu yang juga baru pertama main PS 3 atau loe bakal saling membodohi.        

Konferensi Kambing Jantan

Semalam gue seneng banget bisa baca buku kak Raditya Dika yang ke-6 “Manusia Setengah Salmon” ato yang biasa kakak Dika bilang “MSS”. Isinya seru, kocak, gokil, dan pokoknya lucuu... (walaupun sebenernya gue baru baca 43 halaman dari 258 halaman) tapi gue udah bisa mastiin pasti isinya emang kocak.

Gak banyak yang bisa gue ceritain tentang ini buku, gue cuman bisa bilang “LOE BAKAL NYESEL KALO SELAMA HIDUP LOE NGGAK SEMPAT BACA BUKU INI” lebaaaaay...:D.

Gue punya sedikit cerita ketika abis baca ini buku:
Malam itu suasananya diiingiiin bangeeet, sampe-sampe bulu kuduk gue gak berhenti merinding. Hujan diluar menemani gue saat membaca buku itu, dengan sehelai baju kaos warna kuning bertuliskan CLOSER salah baca dikit orang-orang bisa baca CLOSED yang artinya tertutup tapi kalo dibaca ma orang bugis bisa-bisa jadi KLOSE’ yang artinya jambangan. ‘hehehehe’

Sambil tengkurap gue buka satu per satu halaman demi halaman, makin ke dalam ceritanya makin ngaco’ tapi serius alias real terjadi, sekali-kali gue menoleh ke layar notebook yang udah hampir nemenin gue selama dua tahun. Seperti kebanyakan remaja lainnya kalo lagi konek, halaman website yang pertama gue kunjungin itu facebook, gue seneng banget pas liat di daftar obrolan ada si anu(istilah nyokap Kakak Dika kalo nyebut nama doi’ Kakak Dika) juga lagi on.

Gw      : Peseeekkk...^_^ , katanya mw blajar...:D
Si Anu : jan dlu mancung...
             udah mka blajar dkit td.
             :D oia.. dmna ki inih kh???
Gw      : hhe, sya besok sbuuh pii deh...:D
              .d asrama meK....
Si Anu : :D
              mmm... oia,
              ada mii sdkit ku kerja cung.
Si Anu : buka meq LKS ta’!!
Gw      : iya udah mii...
              trus??

Itulah kutipan percakapan yang sempat terjadi antara gue dengan si anu, dan akhirnya terhenti akibat koneksi modem pinjaman yang gue pake. Akhirnya gue putuskan untuk kembali membaca “MSS”, namun lama kelamaan mata gue makin terasa berat hingga akhirnya buku itu jatuh tepat di depan muka gue.
Disitulah pengalaman seru gue dimulai...
"Kak Dika, Kak Dika, Kak Dikaaa!!" teriak gue di depan rumah Kak Dika.
"Iya masuk aja, pintu gak kekunci kok," terdengar suara Kak Dika yang kayaknya lagi ngeden di dalam WC. Tanpa pikir panjang kali lebarpun gue masuk aja ke dalam rumah Kak Dika yang gede dengan bauran cat bewarna Putih dengan sedikit campuran cat kuning keemasan. Perasaan gue saat itu bercampur aduk gak karuan kayak gado-gado yang dijual di Gazebo dekat sekolah gue, dan akhirnya gue berada dalam ruang tamu Kak Dika. Mata gue terus menjuru ke seluruh isi rumah Kak Dika, lalu tiba-tiba Kak Dika keluar dengan handuk yang melilit menutupi bagian sakralnya tanpa mengenakan baju.
"Ouh, siapa ya?" tanya Kak Dika heran saat pertama kali melihat gue.
"Kenalin kak, Nanana...mamama...ku.... Nonono...er Ieiid fafa..iz Iiiiich..san Z tatata...pi... tete..men-tete..men bibi...biasa papa...panggil aaaaa..aku Aaaa..ade," jawab gue dengan terbata-bata saat pertama kali bertatap muka dengan Kak Dika yang udah lama gue impi-impikan.
"Biasa aja kali, kayak liat malaikat maut aja," sahut Kak Dika yang makin heran ngeliat gue.
"Ouh, iya kenalin namaku Raditya Dika," lanjut Kak Dika balik memperkenalkan diri sambil nyodorin tangannya.
"Udah tau kok kak,” jawabku simpel dengan mata berbinar-binar.
"Oh, terus kamu mau apa ke sini?’ tanya Kak Dika yang hendak memperbaiki handuknya dan duduk di Sofa bewarna coklat tepat depan gue.
"Ehm, gini kak jadi tuh aku punya tugas proyek buat satu novel atau buku kumpulan cerpen," paparku sedikit terbata-bata.
"terus?"
"Kak kayaknya aku nggak bisa lanjut ceritanya deh kalo nggak ada itunya," kata gue sambil ngelus-ngelus tenggorokan gue yang udah hampir kering. "Bayangkan aja kak, Aku berjalan dari Sulawesi kesini buat cuman ketemu kakak."
"Heh? Ouh, Iya..Iya tunggu sebentar ya," jawabnya dengan wajah yang sedikit aneh melihat tingkah gue. Mungkin kak Dika udah bilang dalam hatinya 'PENTING AMAT LOE DATANG KE RUMAH GUE, EMANG GUE UNDANG LOE APA?' Pikir gue saat melihat kak Dika yang masih heran menatap gue.
"Bi, Bibi tolong buatin segelas..." teriak Kak Dika yang hendak memesan sesuatu "Oh iya, Ade mau minum apa?"
"Nggak usah repot-repot kak, Aku cuman pengen minum segelas teh manis hangat aja," jawab gue dengan sedikit terseyum. "Tapi..tapi kak nggak pake gula, nggak pake air hangat, terus cuman pake es batu ya," kata gue sedikit bercanda.
"Hehehe kamu ini, Eh, kakak masuk dulu yah," kata Kak Dika hendak meninggalkan gue "Kakak pengen pakaian dulu."
"Iya kak, silakan," jawab gue seolah-olah gue yang tuan rumah.
Mata gue-pun kembali menerawang ke seluruh isi rumah Kak Dika, termasuk foto besar yang kira-kira berukuran 3R. Di foto itu Kak Dika yang bersama keluarganya masih kelihatan agak muda dari sekarang (ya Iyalah kambing), semakin lama gue semakin lebih merhatiin foto Kak Dika yang mungkin masih berumur 19 tahun waktu itu. Gue jadi bertanya-tanya dalam hati 'Kata temen-temen gue mirip ma Kak Dika, tapi dari segi mananya yah?' Tapi kalaupun gue mirip, gue yakin, gue masih lebih cakep dari Kak Dika. Hahahahaha...
Akhirnya setelah sekian lama gue nunggu, Kak Dika pun keluar dari persembunyiannya dengan menggunakan kaos oblong bewarna merah dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam, persis seperti foto Kak Dika di balik cover buku “MSS”, dan ternyata seorang wanita yang kira-kira berumur 10 tahun lebih tua dari Kak Dika menyusul dibelangkangnya sambil membawakan secangkir teh manis hangat pesanan gue di atas sebuah baki bewarna stenlis.
Kak Dika kembali duduk di sofa yang ada  di depan gue, "Oh iya, gimana cerita kamu?"
"Boleh nggak aku izin minum dulu Kak?" tanya Gue sedikit tersenyum sampe-sampe gigi gue yang agak kuning nongol ke permukaan bibir.
"Ya.. silakan, gak usah malu-malu. Anggap aja rumah kamu sendiri," jawabnya sambil ngegaruk-garuk kepalanya.
Setelah tenggorokan gue tertolong dan kembali pulih karena teh manis hangat buatan Bibi Kak Dika, gue pun kembali menceritakan maksud dan tujuan gue kesini. "Jadi gini Kak, setelah berhari-hari aku nyari ide buat novel aku yang pertama, aku mutusin buat bikin sebuah buku tentang pengalaman sewaktu aku buat novel." Gue berhenti sejenak, dan kemudian ambil napas, "Jadi ide ini aku dapat saat kepikiran film Kambing Jantan yang baru aja aku nonton beberapa hari yang lalu kak."
Kak Dika ngangguk-ngangguk dan kemudian memotong penjelasan gue "Wah bagus dong, terus masalahnya apa?"
"Terus aku tuh pengen judulnya 'Kambing Jantan dari timur', nah yang jadi masalah Kakak Dika gak marah kan aku pake judul itu?" tanya gue ngakhirin penjelasan.
"Siapa juga yang mau marah? Kakak gak marah kok, itukan hak kamu dalam memberikan judul. Di sinilah kekreatifan kamu dituntut, gimana supaya karya kamu itu banyak yang tertarik untuk membacanya dari judulnya," jelas Kak Dika ngedukung gue.
"Bener kakak gak marah?" tanya gue mastiin kalo Kak Dika gak bener-bener marah.
"Kakak serius, apa perlu kakak ambilin kamu pisau?" tanya Kak Dika.
"Pisau? Buat apa pisaunya kak?" tanya gue balik, heran.
"Ya buat kupas apel, atau mungkin suatu saat kamu pengen potong kuku gitu, terus gak nemu potong kuku, kan kamu bisa pake pisau itu, hahahahahaha..." jawab Kak Dika sedikit bercanda.
"Yah Kakak, kirain serius," balas gue lega denger jawaban Kak Dika. ‘Kirain Kak Dika pengen bunuh diri atau sodomi gue’ pikir gue dalam hati.
"Iya...iya kakak serius kok, kalo bisa coba aja karya kamu itu dikirim ke penerbit seperti Gagas Media,  siapa tau tulisan kamu laku, kan lumayan buat nambah duit kuliah kamu nanti," saran Kak Dika.
"Iya deh, entar aku coba, tapi kayaknya nggak bakal laku deh kak," jawab gue pesimis.
"Tapi kok kamu ngasih judulnya 'Kambing Jantan dari Timur'?" tanya Kak Dika Heran.
"Ehm, aku ngasih judulnya kambing jantan dari timur karena eee..." gue berhenti sejenak sambil mikir. "Eee... karena anu kak, aku terinspirasi dari buku pertama kakak, teman-teman sekolah aku juga sering panggil aku kambing. Bukan karena aku lahir di rumah sakit dokter hewan seperti kakak tapi karena ini nih," kata gue sambil ngelus janggot gue yang udah hampir gue pelihara sejak kelas satu SMA.
"Hahahaha... boleh juga tuh panggilan teman-teman kamu," Kak Dika tertawa cengengesan.
"Terus 'dari Timur'-nya itu karena, 'kan dulu udah ada Sultan Hasanuddin dari Sulsel yang bergelar Ayam Jantan dari timur, nah sekarang karena aku sama-sama dari Sulsel jadi aku namain deh bukuku 'Kambing Jantan dari Timur’," gue mencoba ngejelasin semuanya ke Kak Dika. 
"Ouh, jadi karena itu ya. Hahahaha..." Kak Dika ngangguk-ngangguk kayaknya udah mengerti.
"Ya udah kalo Kakak Dika gak marah terus udah mengerti sama alasan aku, aku pamit dulu ya kak," kataku menutup konfrensi singkat itu "Makasih atas saran, dan waktunya buat ngobrol-ngobrol kak."
"Iya..ya, Kakak juga senang bisa kenal jenis kambing seperti kamu," sahut Kak Dika membuat gue tersanjung. "Kapan-kapan kesini lagi ya."
"Sip deh kak," jawab gue sambil ngacungin jempol tanda gue setuju.
Setelah Konfrensi Kambing Jantan yang dilaksanakan di rumah Kak Raditya Dika yang hampir memakan waktu satu jam  itu selesai, gue pun pulang.
Entah apa yang gue naikin waktu itu, gue tiba-tiba udah ada di asrama gue. Mungkin pas gue mau pulang tiba-tiba datang Doraemon nawarin gue pintu kemana saja, atau mungkin kera sakti ngajak gue naik awan kinton-nya, atau Harry Potter lewat di atas gue dengan sapu terbang Firebolt-nya terus karena kasihan liat kambing yang gak bisa berenang dari pulau Jawa ke pulau Sulawesi, akhirnya dia nolong gue atau bahkan mungkin tanpa gue sadari, gue punya ilmu sakti buat menghilang-hilang kayak David, aktor utama di film Jumper. Yang jelas gue yakin bukan Tom dan Jerry, bukan Mickey Mouse, dan juga bukan Aurora yang kerjanya cuman bisa tidur nungguin seorang pangeran untuk menciumnya. Bagaimana Aurora bisa bangun kalo pangerannya ada disini? ‘wkwkwkwkwk’
Sesuai dengan saran Kak Dika, hari itu juga gue langsung mengurus segala sesuatunya yang dibutuhkan sebelum dikirim ke penerbit. Dengan bantuan Oom Google gue cari semua informasi yang mungkin bisa bantuin gue.  
Setelah beberapa bulan kemudian,
"Ya temen-temen wartawan selamat pagi, kalo mau dibilang bener ya memang kisahnya bener, saya menulis berdasarkan pengalaman saya sendiri. Lewat bantuan Kakak saya ini Raditya Dika, lewat gimana kita melihat hal-hal kecil dalam hidup terus coba kita ketawain, dari cinta, dari kejadian sehari-hari. Yang bodoh, yang lucu. Dari mama papa, dari keluarga saya juga. Ya hari ini gue jadi penulis terkenal kayak Raditya Dika, hari ini gue berada di depan puluhan wartawan buat konfrensi pers, berada di layar kaca dan di nonton  oleh jutaan mata seluruh warga Indonesia."
Namun hal buruk buruk terjadi, “BRRUUUK” gue jatuh dari ranjang dengan buku “MSS” di depan gue. Setelah beberapa menit gue baru sadar ternyata gue tadi cuman mimpi, mimpi ketemu Raditya Dika dan berhasil menerbitkan buku pertama gue 'Kambing Jantan dari timur'.
"Hehehehehe..." gue menertawakan diri gue sendiri, moga aja mimpi gue ini bisa jadi kenyataan di kemudian hari. Amin :-)

Cerita Seorang Pelajar Malas : Kambing Jantan dari timur

Sebuah novel kisah nyata yang diilhimai dari seorang siswa bernama Noer Iedfaiz Ichsan Z, Ceritanya bermula ketika seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah Sekolah Menengah Atas memberikan tugas proyek berupa novel sebagai tugas akhir semester kepada siswanya. Noer Iedfaiz Ichsan Z alias Ade adalah salah seorang siswa di sekolah tersebut. Ade yang kadang-kadang dipanggil “KAMBING” sama teman-temannya dipusingkan dengan tugas novel tersebut.

Ia harus menyelesaikan novel tersebut dalam kurun waktu sebulan, stelah berhari-hari mencari Ide, akhirnya ia mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk menceritakan pengalaman hidupnya sendiri selama membuat novel.
    
Namun, ternyata itu tidak semudah yang dia kira, masih banyak cobaan, rintangan, dan godaan yang terus menghalanginya untuk membuat novel.

Apakah Ade alias Kambing dapat menyelesaikan tugas novel tersebut? Dan Bagaimanakah tindakan Ade dalam menghadapi cobaan, rintangan, dan godaan yang akan dihadapinya?
     
Ikuti cerita selengkapnya dalam novel yang berjudul “Kambing Jantan dari timur