Semalam gue seneng banget bisa baca buku kak Raditya Dika yang ke-6 “Manusia Setengah Salmon” ato yang biasa kakak Dika bilang “MSS”. Isinya seru, kocak, gokil, dan pokoknya lucuu... (walaupun sebenernya gue baru baca 43 halaman dari 258 halaman) tapi gue udah bisa mastiin pasti isinya emang kocak.
Gak banyak yang bisa gue ceritain tentang ini buku, gue cuman bisa bilang “LOE BAKAL NYESEL KALO SELAMA HIDUP LOE NGGAK SEMPAT BACA BUKU INI” lebaaaaay...:D.
Gue punya sedikit cerita ketika abis baca ini buku:
Malam itu suasananya diiingiiin bangeeet, sampe-sampe bulu kuduk gue gak berhenti merinding. Hujan diluar menemani gue saat membaca buku itu, dengan sehelai baju kaos warna kuning bertuliskan CLOSER salah baca dikit orang-orang bisa baca CLOSED yang artinya tertutup tapi kalo dibaca ma orang bugis bisa-bisa jadi KLOSE’ yang artinya jambangan. ‘hehehehe’
Sambil tengkurap gue buka satu per satu halaman demi halaman, makin ke dalam ceritanya makin ngaco’ tapi serius alias real terjadi, sekali-kali gue menoleh ke layar notebook yang udah hampir nemenin gue selama dua tahun. Seperti kebanyakan remaja lainnya kalo lagi konek, halaman website yang pertama gue kunjungin itu facebook, gue seneng banget pas liat di daftar obrolan ada si anu(istilah nyokap Kakak Dika kalo nyebut nama doi’ Kakak Dika) juga lagi on.
Gw : Peseeekkk...^_^ , katanya mw blajar...:D
Si Anu : jan dlu mancung...
udah mka blajar dkit td.
:D oia.. dmna ki inih kh???
Gw : hhe, sya besok sbuuh pii deh...:D
.d asrama meK....
Si Anu : :D
mmm... oia,
ada mii sdkit ku kerja cung.
Si Anu : buka meq LKS ta’!!
Gw : iya udah mii...
trus??
Itulah kutipan percakapan yang sempat terjadi antara gue dengan si anu, dan akhirnya terhenti akibat koneksi modem pinjaman yang gue pake. Akhirnya gue putuskan untuk kembali membaca “MSS”, namun lama kelamaan mata gue makin terasa berat hingga akhirnya buku itu jatuh tepat di depan muka gue.
Disitulah pengalaman seru gue dimulai...
"Kak Dika, Kak Dika, Kak Dikaaa!!" teriak gue di depan rumah Kak Dika.
"Iya masuk aja, pintu gak kekunci kok," terdengar suara Kak Dika yang kayaknya lagi ngeden di dalam WC. Tanpa pikir panjang kali lebarpun gue masuk aja ke dalam rumah Kak Dika yang gede dengan bauran cat bewarna Putih dengan sedikit campuran cat kuning keemasan. Perasaan gue saat itu bercampur aduk gak karuan kayak gado-gado yang dijual di Gazebo dekat sekolah gue, dan akhirnya gue berada dalam ruang tamu Kak Dika. Mata gue terus menjuru ke seluruh isi rumah Kak Dika, lalu tiba-tiba Kak Dika keluar dengan handuk yang melilit menutupi bagian sakralnya tanpa mengenakan baju.
"Ouh, siapa ya?" tanya Kak Dika heran saat pertama kali melihat gue.
"Kenalin kak, Nanana...mamama...ku.... Nonono...er Ieiid fafa..iz Iiiiich..san Z tatata...pi... tete..men-tete..men bibi...biasa papa...panggil aaaaa..aku Aaaa..ade," jawab gue dengan terbata-bata saat pertama kali bertatap muka dengan Kak Dika yang udah lama gue impi-impikan.
"Biasa aja kali, kayak liat malaikat maut aja," sahut Kak Dika yang makin heran ngeliat gue.
"Ouh, iya kenalin namaku Raditya Dika," lanjut Kak Dika balik memperkenalkan diri sambil nyodorin tangannya.
"Udah tau kok kak,” jawabku simpel dengan mata berbinar-binar.
"Oh, terus kamu mau apa ke sini?’ tanya Kak Dika yang hendak memperbaiki handuknya dan duduk di Sofa bewarna coklat tepat depan gue.
"Ehm, gini kak jadi tuh aku punya tugas proyek buat satu novel atau buku kumpulan cerpen," paparku sedikit terbata-bata.
"terus?"
"Kak kayaknya aku nggak bisa lanjut ceritanya deh kalo nggak ada itunya," kata gue sambil ngelus-ngelus tenggorokan gue yang udah hampir kering. "Bayangkan aja kak, Aku berjalan dari Sulawesi kesini buat cuman ketemu kakak."
"Heh? Ouh, Iya..Iya tunggu sebentar ya," jawabnya dengan wajah yang sedikit aneh melihat tingkah gue. Mungkin kak Dika udah bilang dalam hatinya 'PENTING AMAT LOE DATANG KE RUMAH GUE, EMANG GUE UNDANG LOE APA?' Pikir gue saat melihat kak Dika yang masih heran menatap gue.
"Bi, Bibi tolong buatin segelas..." teriak Kak Dika yang hendak memesan sesuatu "Oh iya, Ade mau minum apa?"
"Nggak usah repot-repot kak, Aku cuman pengen minum segelas teh manis hangat aja," jawab gue dengan sedikit terseyum. "Tapi..tapi kak nggak pake gula, nggak pake air hangat, terus cuman pake es batu ya," kata gue sedikit bercanda.
"Hehehe kamu ini, Eh, kakak masuk dulu yah," kata Kak Dika hendak meninggalkan gue "Kakak pengen pakaian dulu."
"Iya kak, silakan," jawab gue seolah-olah gue yang tuan rumah.
Mata gue-pun kembali menerawang ke seluruh isi rumah Kak Dika, termasuk foto besar yang kira-kira berukuran 3R. Di foto itu Kak Dika yang bersama keluarganya masih kelihatan agak muda dari sekarang (ya Iyalah kambing), semakin lama gue semakin lebih merhatiin foto Kak Dika yang mungkin masih berumur 19 tahun waktu itu. Gue jadi bertanya-tanya dalam hati 'Kata temen-temen gue mirip ma Kak Dika, tapi dari segi mananya yah?' Tapi kalaupun gue mirip, gue yakin, gue masih lebih cakep dari Kak Dika. Hahahahaha...
Akhirnya setelah sekian lama gue nunggu, Kak Dika pun keluar dari persembunyiannya dengan menggunakan kaos oblong bewarna merah dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam, persis seperti foto Kak Dika di balik cover buku “MSS”, dan ternyata seorang wanita yang kira-kira berumur 10 tahun lebih tua dari Kak Dika menyusul dibelangkangnya sambil membawakan secangkir teh manis hangat pesanan gue di atas sebuah baki bewarna stenlis.
Kak Dika kembali duduk di sofa yang ada di depan gue, "Oh iya, gimana cerita kamu?"
"Boleh nggak aku izin minum dulu Kak?" tanya Gue sedikit tersenyum sampe-sampe gigi gue yang agak kuning nongol ke permukaan bibir.
"Ya.. silakan, gak usah malu-malu. Anggap aja rumah kamu sendiri," jawabnya sambil ngegaruk-garuk kepalanya.
Setelah tenggorokan gue tertolong dan kembali pulih karena teh manis hangat buatan Bibi Kak Dika, gue pun kembali menceritakan maksud dan tujuan gue kesini. "Jadi gini Kak, setelah berhari-hari aku nyari ide buat novel aku yang pertama, aku mutusin buat bikin sebuah buku tentang pengalaman sewaktu aku buat novel." Gue berhenti sejenak, dan kemudian ambil napas, "Jadi ide ini aku dapat saat kepikiran film Kambing Jantan yang baru aja aku nonton beberapa hari yang lalu kak."
Kak Dika ngangguk-ngangguk dan kemudian memotong penjelasan gue "Wah bagus dong, terus masalahnya apa?"
"Terus aku tuh pengen judulnya 'Kambing Jantan dari timur', nah yang jadi masalah Kakak Dika gak marah kan aku pake judul itu?" tanya gue ngakhirin penjelasan.
"Siapa juga yang mau marah? Kakak gak marah kok, itukan hak kamu dalam memberikan judul. Di sinilah kekreatifan kamu dituntut, gimana supaya karya kamu itu banyak yang tertarik untuk membacanya dari judulnya," jelas Kak Dika ngedukung gue.
"Bener kakak gak marah?" tanya gue mastiin kalo Kak Dika gak bener-bener marah.
"Kakak serius, apa perlu kakak ambilin kamu pisau?" tanya Kak Dika.
"Pisau? Buat apa pisaunya kak?" tanya gue balik, heran.
"Ya buat kupas apel, atau mungkin suatu saat kamu pengen potong kuku gitu, terus gak nemu potong kuku, kan kamu bisa pake pisau itu, hahahahahaha..." jawab Kak Dika sedikit bercanda.
"Yah Kakak, kirain serius," balas gue lega denger jawaban Kak Dika. ‘Kirain Kak Dika pengen bunuh diri atau sodomi gue’ pikir gue dalam hati.
"Iya...iya kakak serius kok, kalo bisa coba aja karya kamu itu dikirim ke penerbit seperti Gagas Media, siapa tau tulisan kamu laku, kan lumayan buat nambah duit kuliah kamu nanti," saran Kak Dika.
"Iya deh, entar aku coba, tapi kayaknya nggak bakal laku deh kak," jawab gue pesimis.
"Tapi kok kamu ngasih judulnya 'Kambing Jantan dari Timur'?" tanya Kak Dika Heran.
"Ehm, aku ngasih judulnya kambing jantan dari timur karena eee..." gue berhenti sejenak sambil mikir. "Eee... karena anu kak, aku terinspirasi dari buku pertama kakak, teman-teman sekolah aku juga sering panggil aku kambing. Bukan karena aku lahir di rumah sakit dokter hewan seperti kakak tapi karena ini nih," kata gue sambil ngelus janggot gue yang udah hampir gue pelihara sejak kelas satu SMA.
"Hahahaha... boleh juga tuh panggilan teman-teman kamu," Kak Dika tertawa cengengesan.
"Terus 'dari Timur'-nya itu karena, 'kan dulu udah ada Sultan Hasanuddin dari Sulsel yang bergelar Ayam Jantan dari timur, nah sekarang karena aku sama-sama dari Sulsel jadi aku namain deh bukuku 'Kambing Jantan dari Timur’," gue mencoba ngejelasin semuanya ke Kak Dika.
"Ouh, jadi karena itu ya. Hahahaha..." Kak Dika ngangguk-ngangguk kayaknya udah mengerti.
"Ya udah kalo Kakak Dika gak marah terus udah mengerti sama alasan aku, aku pamit dulu ya kak," kataku menutup konfrensi singkat itu "Makasih atas saran, dan waktunya buat ngobrol-ngobrol kak."
"Iya..ya, Kakak juga senang bisa kenal jenis kambing seperti kamu," sahut Kak Dika membuat gue tersanjung. "Kapan-kapan kesini lagi ya."
"Sip deh kak," jawab gue sambil ngacungin jempol tanda gue setuju.
Setelah Konfrensi Kambing Jantan yang dilaksanakan di rumah Kak Raditya Dika yang hampir memakan waktu satu jam itu selesai, gue pun pulang.
Entah apa yang gue naikin waktu itu, gue tiba-tiba udah ada di asrama gue. Mungkin pas gue mau pulang tiba-tiba datang Doraemon nawarin gue pintu kemana saja, atau mungkin kera sakti ngajak gue naik awan kinton-nya, atau Harry Potter lewat di atas gue dengan sapu terbang Firebolt-nya terus karena kasihan liat kambing yang gak bisa berenang dari pulau Jawa ke pulau Sulawesi, akhirnya dia nolong gue atau bahkan mungkin tanpa gue sadari, gue punya ilmu sakti buat menghilang-hilang kayak David, aktor utama di film Jumper. Yang jelas gue yakin bukan Tom dan Jerry, bukan Mickey Mouse, dan juga bukan Aurora yang kerjanya cuman bisa tidur nungguin seorang pangeran untuk menciumnya. Bagaimana Aurora bisa bangun kalo pangerannya ada disini? ‘wkwkwkwkwk’
Sesuai dengan saran Kak Dika, hari itu juga gue langsung mengurus segala sesuatunya yang dibutuhkan sebelum dikirim ke penerbit. Dengan bantuan Oom Google gue cari semua informasi yang mungkin bisa bantuin gue.
Setelah beberapa bulan kemudian,
"Ya temen-temen wartawan selamat pagi, kalo mau dibilang bener ya memang kisahnya bener, saya menulis berdasarkan pengalaman saya sendiri. Lewat bantuan Kakak saya ini Raditya Dika, lewat gimana kita melihat hal-hal kecil dalam hidup terus coba kita ketawain, dari cinta, dari kejadian sehari-hari. Yang bodoh, yang lucu. Dari mama papa, dari keluarga saya juga. Ya hari ini gue jadi penulis terkenal kayak Raditya Dika, hari ini gue berada di depan puluhan wartawan buat konfrensi pers, berada di layar kaca dan di nonton oleh jutaan mata seluruh warga Indonesia."
Namun hal buruk buruk terjadi, “BRRUUUK” gue jatuh dari ranjang dengan buku “MSS” di depan gue. Setelah beberapa menit gue baru sadar ternyata gue tadi cuman mimpi, mimpi ketemu Raditya Dika dan berhasil menerbitkan buku pertama gue 'Kambing Jantan dari timur'.
"Hehehehehe..." gue menertawakan diri gue sendiri, moga aja mimpi gue ini bisa jadi kenyataan di kemudian hari. Amin :-)


9 komentar:
Hahaha...
Komen sendiri ah...:D
rajin2 ki ma koment2 diblognya orang bro, kalau mu dikoment post ta sama orang. atau bahasa lain na promosikanki :D
oke bro...
tawwwa....:D
Hehehehehe.....
amiiiin ^^
wah kirain... ehehehe..
mimpinya seru, wkwkwkk
oh iya, pertanyan di artikel saya udah tak jawab :)
Cara Gila Banyak Pengunjung Blog
sukses terus yaa ;)
tengkyu, amin^^
pokokx big thanks dah buat kakak Ladidacafe...:)
tengkyu, amin^^
pokokx big thanks dah buat kakak Ladidacafe...:)
keren tawwa kk mbing :)
Posting Komentar